Fenomena Ningsih Tinampi adalah Maqamat Ahwal

Hal itu berdasarkan penjelasan/jawaban Waliyullah Abah Guru Sekumpul atau KH. Zaini Abdul Gani

Dalam Tema Maqam Wali yang Berbahaya

Maqamat

Maqamat adalah bentuk jamak dari maqam. Maqam secara literal berarti tempat berdiri, stasiun, tempat, lokasi, posisis atau tingkatan. Secara terminologis berarti kedudukan spiritual. Dalam Al-Quran, kata maqam yang berarti tempat, disebutkan beberapa kali dengan kandungan kandungan makna abstrak (bersifat spiritual) dan konkret (bersifat fisik dan material), diantaranya pada surat al-Baqarah (2): 125, al-Isra (17):79, Maryam (19): 73, al-Shafat (37): 164, al-Dukhan (44): 54, dan al-Rahman (55): 46.Secara terminologis kata maqam dapat ditelusuri pengertiannya dari pendapat para sufi yang masing-masing pendapat mereka berbeda satu sama lain secara bahasa, namun secara substansi memiliki pemahaman yang relatif sama. Dalam pandangan al-Qusyairi (w. 465 H/1072 M), maqam adalah tahap adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepada-Nya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta latihan-latihan spiritual (riayadhah) menuju kepadaNya.Senada dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri (w. 465 H/1072 M) menunjuk maqam kepada “keberedaan” seseorang di jalan Allah, yang dipenuhim olehnya kewajiban-kewajibanyang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaannya, sejauh berada dalam kekuatan manusia. Agaknya berbeda dengan kedua sufi diatas, Abu Ismail al-Anshari (w. 481/1089 M) berpandangan bahwa maqam adalah pemenuhan hak-hak Allah. Jika seorang hamba tidak memenuhi hak-hak yang ada pada perhentian-perhentian (manzil) itu, maka tidak sah baginya untuk naik ke maqam (tingkat) yang lebih tinggi.Abu Nashr al-Sarraj (w. 378H/1088 M) mempunyai pandangan yang cukup sistematis dan komprehensif tentang maqam. Menurutnya maqam adalah “kedudukan atau tingkatan seorang hamba di hadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah serta memutuskan selain-Nya (inqitha` illa Allah)3.Senada dengan pandangan kaum sufi diatas, Amatullah Armstrong, memandang bahwa Maqam diperoleh dan dicapai melalui upaya dan ketulusan sang penempuh jalan spiritual. Namun, menurut Armstrong, perolehan ini sesungguhnya terjadi berkat rahmat Allah jua. Jadi maqam seorang hamba tidak semata hasil dari usahanya belaka melainkan ada intervensi Allah, yakni anugerah-Nya berupa maqam kepada sang hamba.Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, di kalangan para sufi tidak sama pendapatnya. Di antaranya menurut Abu Nasr al-Tusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan jumlah maqamat ada tujuh, yaitu al-taubah, al-wara’, al-zuhud, al-faqr, al-tawakkal, al-shabr, dan al-ridha. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum ad-Din menyebutkan bahwa maqamat ada delapan, yaitu sama dengan pendapat Abu Nasr al-Tusi ditambah al-mahabbah.4 Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’arruf li Mazhab ahl al-Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasition misalnya mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada 10, yaitu ditambah al-tawadlu’, al-taqwa, dan al-ma’rifah.

Ahwal

Ahwal adalah bentuk jamak dari kata hal yang berarti keadaan atau kondisi spiritual. Hal sebagai sebuah kondisi yang singgah dalam kalbu merupakan efek dari peningkatan maqamat seseorang. Secara teoritis, memang bisa dipahami bahwa seorang hamba kapan pun ia mendekat kepada Allah dengan cara berbuat kebajikan, ibadah, riyadhah dan mujahadah, maka Allah akan memanifestasikan diri-Nya dalam kalbu hamba tersebut.Mengenai hal tersebut, Ibnu al-Alaraby mempunyai pandangan tersendiri mengenai ahwal. Seperti yang dikutip oleh William C. Chittick dalam bukunya yang berjudul “The Sufi Path of Knowledge;Pengetahuan Spiritual Ibnu Al-Araby” memaknai dengan kondisi spiritual seseorang bersifat sementara, yang berbeda dengan maqamat memiliki sifat-sifat yang sama dengan keadaan kecuali kualitas yang dimiliki oleh jiwa. Keadaan-keadaan (ahwal) adalah pemberian Tuhan (anugerah) dan maqamat adalah dicapai melalui usaha. Seperti perkataan beliau: “Setiap maqam di jalan Tuhan merupakan hasil usaha, ada pula sebagian pemberrian, sementara keadaan merupakan pemberian, bukan sebagai hasil usaha, bukan pula sebagai sesuatu yang telah ditetapkan. Keadaan bagaikan pancaran cahaya. Ketika ia memancar, akan lenyap dikarenakan adanya sesuatu yang berlawanan, atau karena danya sesuatu yang serupa. Namun, jika ia diikuti oleh sesuatu yang serupa, sang pemiliknya akan kehilangan.”21Pendapat yang lain juga dikemukakan oleh al-Sarraj. Beliau adalah sufi yang hidup lebih dahulu dibandingkan dengan al-Qusyairi dan al-Hujwiri. Beliau memandang bahwa ahwal adalah “apa-apa yang bersemayam dalam kalbu dengan sebab zikir yang tulus”. Ada yang mengatakan bahwa hal adalah zikir yang lirih (khaufy). Menurut al-Sarraj yang merujuk kepada al-Junaid yang mengatakan bahwa hal bertempat di dalam kalbu dan tidak kekal.22Sedangakan Harun Nasution mengaartikan hal dengan keadaan mental seperti senang, sedih dan sebagainya. 23 sedangkan Syaikh Fadhalalla Haeri membedakan hal dengan maqam, yaitu dimana dan bagaimana dan mengartikan hal dengan sesuatu yang dapat dirasakan.24

Sumber:

Ceramah Abah Guru Sekumpul

http://immdakwahpwt.blogspot.com/2011/09/maqomat-dan-ahwal.html?m=1

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *