Menduga Derajat Pengapian Shogun 110

Suatu cara untuk mengetahui derajat pengapian ialah dengan cara mengukur derajat tongolan pick up pulser di magnet juga sudut antara sensor pulser, tongolan dan panjang tongolan.

  1. Jarak antara sensor pulser dan ekor (tail) tongolan pick up pulser adalah nilai derajat pengapian idle. Atau kondisi rpm rendah tanpa beban biasanya 1000-1500 rpm
  2. Jarak antara ujung/kepala (lead) tongolan pulser sensor adalah nilai derajat pengapian advance. Biasanya angkanya besar untuk kuat menggenjot beban dimulai di rentang 4000-7000 rpm.
  3. Panjang tongolan pick up pulser setelah dikonversi menjadi derajat, maka nilai itu merupakan derajat pengapian di rpm tinggi. Biasanya nilainya lebih rendah dari nomor 2.

Contoh pada Honda GL Pro

  1. Jarak sensor pada trailing pulser adalah 15°. Berarti derajat pengapian Idle berada di 15°BTDC.
  2. Jarak sensor kepada lead pulser adalah 41° (kalau nyata di hitungan 42) yang berarti derajat pengapian rentang 4000-7000 rpm adalah 41°BTDC
  3. Panjang tongolan pulser setelah dikonversi ke derajat adalah 30° (di hitungan 27). Ini berarti pengapian diatas 7000 rpm sebesar 30° BTDC.

Nah, ternyata nilai 41°BTDC dan 30°BTDC itu terekam di kode part CDI. Artinya ada plus minus atau delay antara hitungan pikup pulse dan pembacaan CDI. Atau mungkin keterbatasan alat.

Lalu

Shogun 110 ternyata mirip ketika dihitung derajat pick up pulsernya. Nilainya sangat kecil, tidak mustahil ada pengapaian seperti itu.

Coba kita lihat

  1. Jarak trail pulser ke sensor 15°. Berati derajat idle 15°BTDC (Namun diduga IC memundurkan jadi 9°).
  2. Jarak lead pulser ke sensor 29°. Berarti derajat pengapian advance di 4000-5000 rpm berada di 29°BTDC (Namun diduga IC memajukan jadi 30°) Tidak mustahil, karena itu wilayah pengapian dunia harian. Jika bensin harian dan setingan pernafasan harian bisa minum premium.
  3. Panjang pulsernya 14°. Alamak berarti sangat jinak di atas 10 ribu rpm atau lebih tinggi. Itulah mengapa walau dia unlimiter nyatanya mesin gak sanggup lebih dari 11 ribu rpm. karena dikasih loyo.

Ternyata

Wajah tua Shogun Kebo yang masih suka berlari kencang

Shogun 110
berdasar hitungan pulser idle 15° (sensor ke ekor pulser), advance rpm rendah 29° (sensor ke kepala pulser).
jadi CDI Shogun kayaknya gak bisa dibilang analog. dia ada ICnya.
Dugaan dia cdinya memundurkan idle jadi 9°btdc dan advance di 30°btdc. berdasarkan kode part. Barulah di atas 10.000 rpm turun, diduga 25°.

Penegasan

“CDI Shogun 110 Kebo Bukan Analog”
Setelah dipelajari CDI Shogun kebo bukan Analog. Dia tidak membaca bebas tongolan pulser. tapi memundurkan atau memajukan pembacaan pulser.
Dia adalah “Semi Digital 3 Step”
Saat idle pulser memberikan sinyal 15° dia mundurkan jadi 9°.
Saat pulser memberikan advance di 29° dia memberikan pemajuan 30°.
Dia hanya 3 jenis itu yakni 9° dan 30°. Namun ketika membaca pulser 14 mm di rpm tinggi dia memberikan derajat pengapian diduga 25° di atas 11.000 rpm.

tinggi sehingga mengkonversinya jadi 14°btdc.
jadi gak masalah dia dipasang ke pulser panjang 38 mm honda…
dia tetap akan memberikan angka sekitar itu. Karena dia hanya mampu baca 14 mm awal, sisanya dia buta.

Demikianlah dugaan derajat pengapian Shogun 110. Ukuran pulser yang begitu berati ada potensi besar CDI Shogun bisa dipakai ke motor lain, namun derajat pengapiannya gak bisa tinggi. Hanya unggul unlimiter.

Nah, Derajat pengapian Satria fu dan FXR berapa ya? mungkinkah main 40 atau 41 seperti CBR 150 thailand?

Pembahasan yang Berkaitan

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *