Mengenal Ikan Buntal dan Kasus Keracunannya

Ikan buntal atau disebut puffer fish merupakan famili
Diodontidae dan berasal dari ordo Tetraodontiformes. Ordo
tetraodontiformes berasal dari morfologi gigi ikan ini, yaitu memiliki
dua gigi besar pada rahang atas dan bawahnya yang cukup tajam.
Ikan ini banyak ragamnya di perairan tropis namun tidak banyak
di daerah subtropis maupun perairan dingin. Merupakan bagian
dari Family Tetraodontidae yang secara umum memiliki bentuk
dan karakteristik umum yang sama. Ikan buntal secara umum
berbentuk seperti torpedo yang pada bagian luarnya terdapat sirip
yang mengandung 7-18 bagian halus. Sirip pada bagian bawah
terbentang vertikal sejajar dengan sirip punggung yang juga
mengandung 7-18 bagian halus. Sirip bagian belakang berbentuk
bulat cekung. Sirip pada bagian dada berada di belakang insang.
Gigi-gigi yang ada dalam rahang cukup kuat membentuk 4 bagian
yang terlihat jelas di garis rahangnya tersebut (tetraodontidae,
yang artinya empat gigi). Biasanya gigi-gigi ini digunakan untuk
menghancurkan cangkang moluska dan udang-udangan. Mata
ikan buntal sebenarnya cukup besar bagi tubuhnya yang mampu
bergerak secara bebas. Ikan buntal memiliki perut yang mulus dan
bagian sebaliknya memilki duri. Sirip bagian punggung dan bagian
belakang merupakan sumber utama tenaga penggerak, sedangkan
bagian sirip lainnya biasanya digunakan sebagai alat kemudi.

Aneka jenis Ikan Buntal yang dalam film kartun Spongebob digambarkan sebagai tokoh Nyonya Puff

Ikan Buntal ini disebut juga spotted green puffer fish,
karena ikan Buntal dapat menggelembungkan tubuhnya ketika
merasa terancam oleh musuh atau rangsangan yang membuatnya
terganggu. Penggelembungan ikan Buntal dapat bertahan selama
2 jam.
Ikan Buntal merupakan ikan yang agresif bahkan tidak
segan-segan untuk menyerang bagian sisik atau sirip ikan lain
yang dianggap sebagai musuhnya. Ukuran tubuh ikan Buntal dapat
mencapai 17 cm (6 ¾ inchi). Ikan Buntal hidup di perairan umum
seperti danau dan sungai. Pakan di alam berupa molluska, ikan kecil
dan invertebrate lainnya. Ikan Buntal juga dapat memakan bagian
sirip ikan yang jadi mangsanya. Ikan Buntal sering dijadikan ikan hias
dalam akuarium dan biasanya dapat dipelihara secara kelompok
dengan sesama jenisnya. Ikan Buntal menyerang mangsanya yang
bergerak kemudian memakan mangsanya dengan cara menerkam
dan mengigitnya. Apabila ukuran mangsanya lebih besar, ikan
Buntal dapat membunuh mangsanya terlebih dahulu kemudian
memakannya secara bertahap sampai habis.

Klasifikasi ikan buntal adalah :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata
Kelas : Actinopterygii
Sub-kelas : Neopterygii
Ordo : Tetraodontiformes
Sub-ordo : Tetraodontoidei
Famili : Tetraodontidae
Sub-famili : Tetraodontinae
Genus : Tetraodon Linnaeus
Spesies : Tetraodon retricularis (Arothon reticularis)
Arothon reticularis merupakan sinonim dari Tetraodon
reticularis. Arothon reticularis pada bagian sirip-sirip ikan ini
mempunyai duri-duri lemah yang terdiri dari 10-11 duri lemah pada
sirip punggung, 9-10 duri lemah pada sirip dubur, dan 18 duri lemah
pada sirip dada. Garis lateral tidak jelas. Hampir seluruh tubuhnya
diliputi duri-duri kecil kecuali di sekitar mulut dan pangkal ekor. Pada
bagian punggung, samping badan dan ekor berbintik-bintik putih.
Pada perut terdapat garis-garis coklat memanjang dan garis-garis
tersebut melengkung ke atas mengelilingi lubang insang bagian
depan, serta membentuk garis-garis miring pada pipi.

Selain memiliki kandungan metabolit primer yang cukup
lengkap terutama asam aminonya, ikan buntal juga memiliki
kandungan metabolit sekunder seperti racun tetrodotoksin (TTX).
Racun ini biasanya digunakan sebagai alat pertahanan diri dari
serangan predator. Beberapa kasus keracunan yang terjadi di
Indonesia diantaranya pada tahun 2010 dan 2008 di Cirebon.
Kasus keracunan ikan buntal juga terjadi di beberapa daerah seperti
Tapanuli Tengah, Bengkulu dan Maluku. Meskipun berbahaya,
tetrodotoxin ternyata dapat dimanfaatkan terutama pada bidang
farmasi. Tetrodotoksin dapat digunakan sebagai obat anastesi
lokal (dapat memblok syaraf). Tetrodotoksin yang dicampur dengan
bupivacaine dan dexamethasone dapat meningkatkan waktu
anastesi. Obat berbahan dasar dari tetrodotoksin yang pertama
kali dipasarkan adalah Tectin, obat ini dikembangkan oleh WEX Pharmaceutical Inc. Dalam dosis kecil, obat ini sangat mampu mengurangi rasa sakit kronis yang dialami oleh pasien kanker.

Famili diodontidae dan tetraodontidae dianggap sebagai
evolusi lanjutan di antara famili lain dari golongan teleostei yang
memiliki banyak kelenjar kulit sebagai ciri-cirinya. Pada umumnya,
sekresi lendir ikan teleostei memiliki fungsi sebagai pelumas untuk
pergerakan dan mekanisme perlindungannya. Selain itu, untuk
beberapa famili ikan yang lain (ostraciidae, grammistidae, soleidae,
siluridae dan tetraodontidae), sekresi lendir ini bermanfaat sebagai
pertahanan kimia dari serangan predator, dan beberapa jenis
racun yang dihasilkan (pahutoxin, deacetoxypahutoxin, pardaxin,
grammistins, pavoninins dan tetrodotoxin) telah berhasil diidentifikasi
(Boylan dan Scheuer, 1967; Randall et al., 1971; Hashimoto dan
Oshima, 1972; Clark dan George, 1979; Goldberg et al., 1982;
Tachibana, 1984; Kodama et al., 1985, 1986; Gopalakrishnakone,
1987; Saitanu, et al., 1991; Freitas et al., 1992).
Kamiya et al. (1988) menemukan beberapa agglutininnya
dan Nair (1988) berhasil menunjukkan sebagian iktiotoksin dari
kulit ikan yang dapat menyebabkan hemolisis. Tetrodotoksin (TTX) adalah neurotoksin terkenal yang dapat ditemukan di beberapa
jenis ikan (Noguchi dan Hashimoto, 1973; Kodama dan Ogata,
1984; Yasumoto et al., 1986). Studi perilaku melaporkan beberapa
spesies ikan mampu menolak jaringan-jaringan ikan buntal yang
beracun (Yamamori et al., 1980; Saito et al., 1984). Yamamori et
al. (1987) melaporkan hasil respon indra yang terdapat pada ikan
jenis Rainbow Trout dan Arctic Char terhadap TTX dan saksitoksin.
Dari hasilnya, penulis menyarankan adanya indra reseptor khusus
penanganan racun pada ikan-ikan tersebut, yang berfungsi sebagai
mekanisme pertahanan biologis untuk persiapan menghindari
proses pencernaan mangsa beracun.
Kelenjar kulit yang dimiliki sebagian spesies ikan buntal dari
marga takifugu memiliki kandungan konsentrasi TTX yang tinggi
(Kodama et al., 1985; Kodama et al., 1986), dan untuk ikan buntal
jenis Arothron immaculatus, laporan awal oleh Gopalakrishnakone
(1987) menyatakan bahwa ikan ini memiliki banyak kelenjar sel
dengan bukaan bagian dalam yang berporos ke luar. Sebagai
tambahan, kulit ikan buntal marga tetraodon yang berasal dari
perairan air tawar memiliki kadar racun TTX tertinggi yang pernah
dicatat sampai saat ini (Saitanu et al., 1991).
Toksisitas ikan buntal terkait erat dengan adanya racun
yang mampu melumpuhkan (tetrodotoksin dan saksitoksin). Sekresi
lendir yang dikumpulkan dari C. spinosus dapat larut dengan mudah
dalam air dan menunjukkan sifat mirip deterjen, seperti yang pernah
dibahas sebelumnya oleh Kalmanzon et al. (1991) untuk sekresi
yang berasal dari ikan kudu-kudu Ostracion cubicus, yang dapat
dijumpai di kawasan Laut Merah.
Tetrodotoxin merupakan neurotoxin yang memiliki berat
molekul rendah (319,27) dan memiliki struktur yang sangat unik
yang dapat dilihat pada Gambar 1. Racun ini sangat polar sehingga
dapat larut dalam air dan tidak larut dalam senyawa organik.
Berbagai penelitian mengenai isolasi racun tetrodotoxin telahdilakukan, Hasan et al.(2008) menggunakan aquades dingin untuk
mengekstrak liver ikan buntal, dan menggunakan berbagai macam
pelarut organik untuk mencucinya.

Sumber:

ECO LEATHER PENYAMAKAN IKAN BUNTAL
Penulis :
RLMS Ari Wibowo
Titik Anggraini
Ambar Pertiwiningrum
Suharjono Triatmojo

Kasus Ikan Buntal di Kabupaten Probolinggo


Bupati Tantri menjenguk korban keracunan ikan buntal di RS Waluyo Jati, kemarin (8/2).

KRAKSAAN – Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, Jumat (8/2) mengunjungi sekaligus menyantuni dua pasien bernama Mahfud (42), Moh. Habibullah (13) warga dusun Gluguk RT 22/RW 04 Desa Brumbungan Kidul kecamatan Maron yang mengalami musibah keracunan Ikan Buntal (Buntak) pada hari Rabu (6/2). Saat ini mereka dirawat di RSUD Waluyo Jati Kraksaan. 
Hal ini merupakan salah satu wujud keprihatinan Pemkab Probolinggo terhadap warganya, mendengar sebelumnya kedua orang tua Moh. Habibullah tidak tertolong nyawanya setelah sempat ditangani di Puskesmas Maron, Rabu (6/2) malam. 
Bupati Probolinggo menyayangkan kejadian ini sekaligus mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Probolinggo agar lebih berhati-hati dalam mengolah maupun mengkonsumsi salah satu Ikan perairan laut yang memang umumnya dikenal sangat riskan jika di konsumsi bagi yang tidak tahu cara mengolahnya. 
“Sudah kami lihat dari dekat dan alhamdulillah kondisi pasien sudah jauh lebih baik daripada kondisi sebelumnya. Mereka sudah membaik, dan efek racun sudah jauh berkurang tinggal pusing saja yang masih terasa,” kata Bupati Tantri. 
Lebih lanjut dr Anang Budi Yoelijanto Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo menjelaskan karakter racun yang dimiliki oleh Ikan Buntal ini cenderung menyerang fungsi syaraf dan organ vital manusia. 
“Karena itu keluhan mereka yaitu mengalami kelumpuhan, tanda-tanda vital mereka rata – rata tensi darah meningkat, muntah, kondisi fisik melemah, dan jika menyerang jantung sifatnya cepat dan sangat fatal, seperti pada dua korban meninggal kemarin di puskesmas Maron,” jelas Anang. 
Anang menerangkan sebelumnya dua pasien keracunan ini dirujuk ke rumah sakit Waluyo Jati pada hari Kamis (07/02) pagi, dan langsung dilaksanakan pelacakan dengan mengambil sampel makanan dan langsung dikirim ke Surabaya untuk dilakukan uji lab. Diperkirakan akan memakan waktu satu minggu untuk mengetahui hasil lab tersebut. 
“Alhamdulillah atas kesigapan petugas dan perawat rumah sakit mereka masih sempat tertolong dan kondisinya sudah jauh lebih baik saat ini. Dan alhamdulillah lagi atas instruksi ibu Bupati semua biaya perawatan akan dibebankan atas nama Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya. 
Sementara Sugianto Humas RSUD Waluyo Jati Kraksaan mengemukakan kasus keracunan Ikan Buntal sebenarnya sudah sering terjadi, namun baru kali ini sampai menelan korban jiwa. Ia menambahkan sebelumnya korban memang sudah terbiasa mengkonsumsi ikan buntal ini, mungkin karena racunnya ada yang masih tertinggal sehingga akhirnya mereka mengalami keracunan. 
“Sebenarnya masyarakat mengetahui bahwa Ikan buntal adalah Ikan yg tidak lazim dimakan karena beracun, oleh karena itu kami menghimbau agar masyarakat lebih berhati hati. Kalau bisa dihindari saja mengkonsumsi Ikan tersebut, toh masih banyak Ikan jenis lain yang aman untuk di konsumsi,” ungkapnya. (probolinggokab.go.id)

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *