Napak Tilas Java Encrypted

“Takdir memanggil” begitu yang saya jawab pada kakak tingkat dan teman-teman kampus ketika melihat kaos lengan panjang warna krem dan ada sablonan angka 44 di kedua lenganya.

Pertanyaan mereka apakah kaos yang saya pakai adalah kaos angkatan. Pasalnya, saya merupakan angkatan 44 dan panji fakultas kami berwarna abu-abu khusus yang maksudnya adalah krem. Kuliah kami di Jawa Barat, di Kabupaten Bogor tepatnya.

Mengapa saya jawab takdir, ialah karena dihadiahi kaos itu tahun 2002 saat kelas 2 SMP. Penulis menempuh pendidikan di Jawa Timur Kabupaten Probolinggo.

Probolinggo berarti tonggak bercahaya sering dikunjungi bangsawan majapahit menguji keperkasaan sang Prabu, karena memang daerah saya rawa air tawar dulunya.

Tempat yang asyik untuk para raja berburu binatang buas. Pasalnya macan Jawa suka sekali mandi di rawa.

Kaos lengan panjang sablon 44 warna krem

2007 saya hijrah, itu dilakoni di Jabar. Kuliah kehutanan namun diawali tahap dasar pra fakultas, baru 2008 masuk fakultas. Setahun setelahnya di 2009 adalah napak tilas yang pertama. Kesempatan itu karena ada praktek untuk mata kuliah. Yakni ke Hutan Leuweung Sancang Garut Jabar tempat petilasan Prabu Siliwangi. Secara keilmuan di sana adalah hutan dataran rendah yang masih eksis. Ada banyak pohon dengan diameter pokok yang sangat besar, termasuk Meranti Jawa. Juga terdapat Bunga Rafflesia Jawa

Leuweung Sancang

Berdasarkan cerita legenda sang Prabu Siwangi menghilang di hutan itu. Dan berubah menjadi pohon Kaboa. Namun berdasarkan penelitian berbagai narsumber hutan itu punya gerbang teleport ke bagian tanah Jawa yang dilipat. Saya lebih senang istilah Java encrypted atau dienkripsi sehingga gak terlihat manusia. Ini adalah teknologi berdasar ilmu quantum jika diilmiahkan. Sebuah teknologi canggih yang bisa melakukannya yakni nenek moyang Nusantara yaitu Lemuria.

Garut Kota Illuminati Ahmad Samantho

Tim kami beristirahat di tepi hutan Leuweung Sancang Barat
Pantai selatan di tepi hutan Sancang Barat. Usai kami praktek wilayah itu diterjang tsunami
Shelter atau pos pengawas hutan Leuweung Sancang Barat
Menaiki batu karang di Sancang Timur

Saat praktek mengambil data analisis vegetasi, saya sempat kehilangan belati di hutan Sancang itu. Ada dahan pohon yang saya tebas, tapi tidak mempan. Belati terpental jatuh ke tanah dan hilang. Anehnya tidak bisa dicari, namun saat itu saya gak berpikir apa-apa hanya menerima keadaan sudah hilang.

Pulau Sumba

Pulau Sumba berada di NTT, tidak tahu ada kaitannya atau tidak. Tapi di sini ada pohon yang bisa melakukan teleport berpindah tempat sekejap mata. Nama pohonnya Mayela Anarto jika wawancara dengan warga mungkin sebangsa Arthocarpus sp.

Kami berkesempatan ke sana 2009 karena ada ekspedisi flora fauna di TN Manupeu Tanadaru. Di sana lah kami menemukan keramahan bangsa Indonesia yang masih asli.

Umbu Rhinus dan Umbu Demus adalah guide kami. Pernah saya bertanya, “Mengapa nelayan itu memberikan kita ikan setiap kali lewat, pun itu gratis?”. Umbu Rhinus menjawab santai, “Kita ini manusia harus saling memberi. Apa mereka tidak mau disebut manusia lagi, karena punya sikap tak mau memberi?”.

Jawabannya seperti petir di siang bolong. Betapa indahnya sikap asli bangsa kita. Penetrasi budaya luar yang bikin kita gak seperti itu lagi.

Pantai Tengaire yang menyajikan laut selatan Sumba Barat, Pulau Sumba, NTT

Apakah ada kaitannya? Mungkin ada kaitannya, karena Adolf Hittler pernah menyamar jadi dokter umum dan bekerja di wilayah Sumbawa NTB. Artinya dia meneliti wilayah Nusa Tenggara mencari pintu ke Lemuria. Karena dia salah satu yang tahu tentang peradaban ini. Hittler mempelajari manuskrip kuno lemuria dan menemukan bahwa Nusantara adalah tanah Lemuria. Tanah Sedulur Papat-Limo Pancer yang lambangnya diwujudkan sebagai lambang Nasi (sensor)

Hittler Pernah di Sumbawa

Heart Of Borneo Bukit Schwaner Muller

Pada tahun 2010 saya berkesempatan mengunjungi spot telaga air panas bernama Sepan Apoi masuk dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBR). Wilayah itu masuk wilayah administrasi provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Tim kami berangkat dari Wilayah Kalimantan Tengah. Start dari Palangkaraya menuju persimpangan Sampit ke utara, menuju ke utara kemudian transit di Tumbang Samba.
Perjalanan dilanjut dengan perahu motor melawan arus, kami susuri percabangan sungai menuju Desa Bengban. Di desa itu burung jenis Kucica Kampung (Kacer) berseliweran seperti burung gereja.

Tim lanjut dengan perahu yang lebih kecil atau sampan motor. Di sini lah uji nyali. Karena kami seperti balapan arung jeram melawan arus. Tak ayal, sampan jadang ngetril melewati jeram juga beberapa kali baling-baling patah terantuk batu sungai.

https://photos.app.goo.gl/o1dbomYEJy6zuMTX7

Setelah tiba di hutan belantara itu kami menemukan keindahan yang luar biasa. Aneka jenis anggrek termasuk anggrek hitam dan anggrek bulan yang asli dan liar. Pohon raksasa meranti dan ulin. Rusa sambar, kucing hutan sebesar macan tutul, orang utan, Owa, kupu-kupu ribuan jenis termasuk yang langka dengan bentuk aneh. Bahkan ada ulat bulu menyala dalam gelap. Ikan air tawar bernama Saluang yang ketika dijual ke eropa bisa dihargai 3 euro per ekor, tapi bukannya dijual malah kami makan buat cemilan.

Tapi bukan ity konteksnya. Ada hal mencekam saat itu, yakni kami berhati-hati agar tidak mengusik Suku Dayak Kaki Merah. Mereka jarang turun ke tanah aktivitas mereka nomaden berjalan dari satu pohon ke pohon lainnya karena punya semacam ilmu meringankan tubuh.

Dayak Kaki Merah makan daging mentah dan sayuran hutan. Jangan buruk sangka dulu, mereka makan seperti daging sushi. Darahnya diperas dulu dengan dijepit dua kayu lalu diikat.

Kemasyuran saktinya suku itu pernah dibuktikan saat konflik Sampit merebak. Merekalah yang dipanggil oleh para tetua adat Dayak Sampit untuk membantu, akhirnya ada kejadian mandau terbang. Mereka berlompatan dari satu tiang listrik ke tiang lainnya, sambil mengomandokan mandau terbang. (sumber guide kami, warga dayak).

“Ayo kita segera balik ke tenda, jangan lama-lama di sini,” kata salah satu guide kami. Kalimat itu dilontarkan setelah melihat usus rusa mengambang di sungai. Artinya, Dayak Kaki Merah sedang menyantap hasil buruannya, ntah mungkin di pohon di atas kami, yang tidak berani kami tengok.

Nah, apakah kaitannya? Ada ilmuan yang menelaah bahwa lokasi yang kami kunjungi, ribuan tahun lalu adalah kawasan Atlantis. Peradaban modern kedua setelah Lemuria. Atlantis adalah peradaban yang dibangun “menantu” Bangsa Lemuria (Jawa Nusantara).

Perhatikan Menit ke 18

Gunung Halimun Salak

Kesempatan selanjutnya pada 2010 ada praktik kembali untuk lebih mengenal ekosistem hutan. Salah satu spotnya adalah Stasiun Penelitian Cikaniki, mungkin masuk perbatasan Bogor Sukabumi Jawa Barat.

Hutan Gunung Salak. Spektrum cahaya yang masuk gak lengkap, karna tajuk pohon sangat rapat. Jadi kalau berfoto jadi jelek pencahayaannya

Ealahdah, ini mahasiswa nakal memang. Gara-gara diceritain mitos Aul (Werewolf) kami malah bertiga pergi malem-malem. Tiga orang itu 2 cowok dan 1 cewek. Kami percaya, adanya hati yang bersih maka alam tak akan berbahaya sedikitpun. Itu ya ada beneran makhluk astral berjaga di malam hari. Kami dengar suara pedang berdesing. Kami sedikit takut tapi ya tetap saja jalan-jalan.

Setidaknya itu jadi sedikit memuaskan kami. Trio memutuskan kembali saat sudah lewat tengah malam. Apa yang kami lihat dan dengar telah memuaskan rasa ingin tahu sehingga bisa tidur nyenyak.

Mungkin ada kaitannya karna Halimun Salak adalah wilayah kerajaan Pakuan Pajajaran. Tempat kerajaan yang dipimpin Siliwangi. Suatu wilayah dengan tumbuhan paku (semacam pakis) tumbuh sangat banyak dan berjajar di sepanjang jalur yang dilalui manusia.

Gunung Merbabu

Saat kami praktik kerja lapang 2011 entah mengapa memilih Gunung Merbabu yang masuk wilayah Boyolali, Solo, Semarang. Mungkin saya juga terpanggil napak tilas di dekat Gunung Merapi tempatnya Kiai Sapu Jagat. Kakak sulung dari Ratu Kidul dan Nyai Roro Kidul begitu kata Cak Nun. Saat itu merapi baru saja berhenti dari letusan besar zaman keluar istilah “wedhus gembel”.

Berfoto dengan background Gunung Merapi. Saya beli tembakau di sini, baunya enak. Mau saya bawa pulang buat oleh-oleh teman-teman tapi hilang
Gunung Sindoro Sumbing dilihat dari dataran tinggi Merbabu

Ada yang menarik di Gunung Merbabu itu. Salah satu warga bercerita ada kitab kuno yang bersampul kulit manusia. Bahasanya tidak bisa dicocokkan dengan bahasa peradaban kuno dunia. Itu asli bahasa Indonesia zaman ice age kali ya?

Selain itu ketika naik puncak gunung di 2.900 mdpl kok ada pengalaman unik. Lihat seorang pendaki naik tapi kemudian menghilang setelah dekat dengan posisi saya saat itu.

Salah satu puncak Gunung Merbabu 2900 mdpl
Di depan Balai TN Merbabu wilayah Boyolali

Piramida

Seperti dipanggil juga, kenapa saya tertarik meneliti Piramida. Yang pada ujungnya diketahui Piramida itu teknologi Bangsa Lemuria yang merupakan nenek moyang kita. Piramida adalah bangun berdasar Golden Ratio PHI (bukan phi 22/7).

Metode penelitian yang saya jalani

Dia bisa menyerap energi alam dan mengkonversinya jadi energi yang diinginkan. Listrik wireless adalah energi yang sejauh ini diinginkan dari sebuah piramid. Jadi KRL tak perlu antena dan kabel di atasnya jika itu terwujud. Cukup secara wireless. Itulah mengapa bangsanya firaun gak pake obor tapi pake listrik itu dengan lampu pijar. Kita juga punya dong, wong pembangkitnya ada 3 Piramida raksasa di Jawa. Mesir itu pyramidnya cuma receiver lho.

Usulan penelitian yang saya ajukan. Namun kemudian diganti benih saga pohon

Ke Kota Surakarta yang Nama Kunonya Solo

Wah saya dapat tiket untuk ikut Seminar Nasional di Kota Solo. Dibiayai Kementerian pada tahun 2013. Wah sip dah bisa sekalian jalan-jalan di Kota Surakarta itu. Ternyata di sana juga napak tilas, tepatnya bertemu dengan bloodline Cakraningrat. Sebuah garis darah bangsa Lemuria kata peneliatan beberapa ahli. Itulah yang disebut darah biru kali ya. Darahnya lain sendiri mungkinkah Rhesus negatif (-) itu yang jadi pembedanya.

Pasar Kaget Stadion Manahan Solo saat Minggu

Gunung Kelud

Setelah bekerja di salah satu kantor berita di Bogor saya berkesempatan jadi relawan yang membantu para korban erupsi Gunung Kelud tahun 2014. Kami bersama tim medis dan dokter membantu mengobati mereka yang terdampak hujan abu dan cuaca yang tak menentu.

Berfoto bersama para relawan dengan background lahar dingin Kelud
Pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat

Ternyata, di situ kata Cak Nun akan muncul salah satu Piramida raksasa milik bangsa Lemuria. Atau (mungkin) kita sebut Hastinapura atau kita sebut pusat Nusantara. Ada gerbang teleportasi di kawasan Blitar Kediri itu. Mungkin kisah Lembusura yang masuk dalam lubang atau goa, itulah gerbangnya.

Itulah sedikit napak tilas yang saya jalani sampai sejauh ini. Seperti penuturan beberapa ahli sejarah. Bangsa Lemuria adalah penghuni Jawa Pra Sejarah, Jawa di sini artinya wilayah seluruh Nusantara yang disebut Jawa (Java).

Mereka sudah ada sejak 25.000 tahun sebelum Masehi atau lebih tua. Peradaban mereka sangat maju, punya penguasaan pada bangunan megalitikum, energi nuklir yang bersih, dan transfer energi wireless.

Mereka punya “menantu” yang kemudian keturunannya membangun peradaban Atlantis. Jadi teknologi atlantis saat itu mengadopsi teknologi yang sudah ada di Lemuria. Para peneliti mengatakan Atlantis adalah agresor yang berusaha merebut kekuasaan yang dibina Bangsa Lemuria.

Sehingga saat itu ada serangan nuklir pada wilayah Lemuria. Namun senjata nuklir itu berhasil dibelokkan dan menimpa wilayah Atlantis sehingga terjadi tsunami besar.

Bangsa Lemuria memutuskan untuk menyembunyikan wilayah kekuasaannya. Karena ternyata peradaban yang mereka bangun menjadi sumber iri dengki bagi pihak lain yang melihat. Maka Pulau Jawa yang sangat luas dienkripsi dengan selaput kamuflase sehingga terlihat lebih sempit seperti saat ini.

Selain membangun peradaban di atas Pulau Jawa mereka juga membangun peradaban di Center Of Earth (Rongga Bumi di bawah Pulau Jawa). Pangkalan yang melayang-layang di langit juga berkamuflase. Pangkalan di Bulan, Mars, dan Saturnus juga berkamuflase.

Berikut ini link terkait Bangsa Lemuria oleh Cak Nun. Tokoh budaya Indonesia yang terus menggali sendiri sejarah kita Bangsa Indonesia. Kenapa kita terpanggil? Apakah untuk menghadapi tahun 2030?

Rahasia Jawa

Encrypted

So we have being called for the purpose. The purpose is to protected our land…

There are gold and most modern technology that can improve life but also a weapon…

*Artikel ini tidak dipasangi iklan. Namun jika ada yang berkenan menyumbang untuk pengembangan website, bisa transfer ke Bank Jatim No Rek 0136057031 an Rahmat Hidayat.

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *