Sasui Punhu ( Sassi Punnu ), Legenda Cinta Sungai Sindh India

RYB mengutip sedikit kisah cinta ini dari buku berjudul “Ishq Mohabbat” karya Anand Krishna.

Ilustrasi Sasui Punhu. Credit: pemilik gambar

SASUI PUNHU

Bila menempuh Jalan Cinta saudaraku, sobatku, lampauilah terlebih dahulu ilusi yang memisahkan Dia darimu. Bebaskan dirimu dari dualitas dia dan aku, ada dan tak ada, bagimu sudah sepatutnya tak berlaku. Janganlah kau puas mendengar kisah orang. Hancurkan sendiri berhala dualitas yang yang menjadi penghalang.

Janganlah kau mengharap mukjizat lain dari Tuhan. Perhatikanlah dirimu kawan, kaulah bukti kehadiran Sang Pangeran. Berhentilah wahai Sachal, berhentilah menangis karena rindu. Ia yang kau rindukan sejak dulu sebenarnya ada dalam dirimu! (Sai Abdul Wahab “Sachal Sarmast)

“Sial, benar-benar sial! Anakmu sungguh sial Naaun, ia membawa bencana!”

Kata-kata itu terucap dari seorang peramal kecil di desa terpencil Sindh (salah satu kota di India dengan sungai Sindhu). Naaun sudah sering mendengar kata-kata itu sebelumnya. Kata “sial” sering digunakan peramal untuk menjual ritual penangkal. Setiap sial ada penangkalnya dengan ritual ini itu dan biayanya.

“Putrimu itu akan menikah dengan orang luar.”

“Ah ‘peramal’ itu saja? itu yang kau anggap sial,”

“Aku belum selesai bicara, Naaun. Jangan kau potong aku. Yang kumaksud bukan orang asing saja, tapi orang yang tidak sama agamanya dengan kita, seorang muslim. Ya dia akan menikah dengan orang Islam. Putrimu akan diboyong orang muslim. Itu pun bukan muslim dari negeri kita sendiri, tapi orang luar, orang asing,”

Ilustri Sasui Punhu lainnya. Sumber: Facebook

 


Lalu siapa sebenarnya Sasui Punhu, berikut sekelumit sejarahnya:

Sasui Punhu atau Sassui Punhun (Sindhi: سَسُئيِ پُنهوُن, Urdu: سسی پنوں, translate. Sassi Punnun) adalah kisah cinta dari cerita rakyat Sindi (sekitar Sungai Sindhu) dan Balochi (Baluchistan) perbatasan Pakistan. Ceritanya adalah tentang seorang istri yang setia yang siap untuk mengalami segala macam masalah yang akan menghadangnya ketika mencari suami tercintanya yang dipisahkan darinya oleh para saingan.

Kisah ini juga muncul di Shah Jo Risalo dan merupakan bagian dari tujuh roman tragis populer dari Sindh, Pakistan. Enam kisah lainnya adalah Umar Marvi, Sohni Mehar, Lilan Chanesar, Noori Jam Tamachi, Sorath Rai Diyach dan Momal Rano yang biasa dikenal sebagai Seven Queens of Sindh, atau Tujuh pahlawan Shah Abdul Latif Bhittai.

Mir Punnhun Khan (Mir Dostein Hoth) adalah putra Mir Aalii, putra Raja Mir Hoth Khan, leluhur Hoths, suku Balochistan yang terkenal di Balochistan. King Hoth adalah putra Mir Jalal Khan, penguasa wilayah Balochistan (Pakistan) di abad ke-12, dan ayah dari Rind, Lashari, Hoth, Korai, Talpur dan Jatoi.

The Kech Makran terletak di sepanjang Makran Coastal Highway di Baluchistan, Pakistan. Benteng Punnhun yang dibangun kembali pada tahun 6000-8000 SM terletak di sana. Salah satu sudut pandang kampung halaman Punhu dari Fort Turbut Balochistan. Sumber: link

Plot Cerita

Sasui adalah putri Raja Bhambore di Sindh (sekarang di Pakistan). Setelah kelahiran Sasui, para astrolog meramalkan bahwa dia adalah kutukan bagi prestise keluarga kerajaan. Raja memerintahkan agar anak itu dimasukkan ke dalam kotak kayu dan dibuang ke Sungai Sindhu. Seorang tukang cuci dari Desa Bhambore menemukan kotak kayu dan anak di dalamnya. Tukang cuci percaya bahwa anak itu adalah berkat dari Tuhan dan membawanya pulang. Karena dia tidak memiliki anak sendiri, dia memutuskan untuk mengadopsi dia.

Kampung halaman Sasui di Bhambore. sumber

Ketika Sasui menjadi gadis muda, dia seindah peri surga. Cerita-cerita kecantikannya mencapai Punhun dan dia seakan mendapatkan hasrat atau panggilan luar biasa untuk bertemu Sasui.

 

Keyakinan Punhu sungguh luar biasa. Dan, hanyalah keyakinan seperti itu yang dapat mempertemukan kita dengan Sang Cantik, dengan Ia Yang Maha Cantik, dengan Kecantikan itu sendiri.

Tanpa keyakinan seperti itu, kita hanya dapat bertemu dengan kecantikan semu, dengan cantik-cantik kodian yang banyak kita temuai dimana-mana. Tanpa keyakinan Punhu, kita hanya akan bertemu dengan kecantikan jasmani. Kecantikan rohani tak akan kita temuai.

Yakinkah kita akan Kecantikan-Nya? Apa masih membutuhkan bukti, masih ingin mendengar kesaksian orang? Bahkan, bila kita percaya pada-Nya”karena” Ia cantik, kepercayaan yang masih membutuhkan “karena” bukanlah keyakinan. Yakin berarti tidak percaya “karena” sesuatu. Yakin berarti yakin, tanpa embel-embel “karena”.

 

Pangeran muda yang tampan itu melakukan perjalanan ke Bhambore. Dia mengirim pakaiannya ke ayah Sassi (tukang cuci) sehingga dia bisa melihat sekilas Sassi.

Ketika dia mengunjungi rumah tukang cuci, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka dilamarlah Sasui. Namun Punhu menggunakan trik berupa kedok dengan mengaku sebagai orang sederhana yang kerja serabutan.

Bahkan pekerjaan sebagai dhobi (binatu) bisa dilakukannya. Kedok itu dilakukan karena dia sudah pernah melamar, melalui mak comblang, mengaku sebagai sudagar kaya, malah ditolak.

 

Dengan menempatkan seorang makcomblang antara dirinya dan Sansui, Punhu membuat kesalahan pertama, yaitu menciptakan jarak antara pengabdi dan Yang Diabdi.

Tidak hanya perantara, Punhu juga membuat kesalahan lain dengan memamerkan kelebihan-Nya, Aku seorang pangeran, putra raja – itulah kesalahan kedua yang dilakukannya. Memang btidak secara langsung kepada orang tua sasui, tetapi itulah yang ia jual lewat makcomblangnya. Pamer adalah kecenderungan yang juga dimiliki oleh setiap orang.

Merunduk di hadapan Lal, dan melihat yang tak terlihatpada Sansui! Dengan itu Punhu menghunjam ke kedalaman. Tapi, kenapa dia harus memakai kedok?

Inilah kesalahan ketiga: Punhu berkedok. Ia bohong., tidak tampil apa adanya. Ia menutup-nutupi.

Ia berbuat begitu karena takut. Punhu masih takut ditolak. Ia tidak siap ditolak. Ia tidak dapat menerima penolakan.kedekatan dengan kasih masih diukurnya dengan penolakan dan penerimaan.

Tak cukupkah bila kita sudah dekat? Apakah kedekatan itu tak sama dengan penerimaan? Tak cukupkah kedekatan dengan Sang Kasih? Mau menuntut penerimaan seperti apa lagi? Kedekatan dengan Sang Kasih sudah merupakan bukti dari penerimaan-Nya.tapi, Punhu tidak puas, ia ingin memiliki Kasih dan itulah kesalahannya yang keempat: keinginan untuk memiliki – keserakahan!

Ayah Sasui merasa bimbang dan ragu, pasalnya dia berharap Sasui akan menikahi seorang yang juga tukang cuci (binatu atau dalam bahasa mereka dhobi) dan tidak ada orang lain. Dia meminta Punhu untuk membuktikan bahwa dia layak bagi Sasui dengan lulus tes sebagai tukang cuci.

Punhu setuju untuk membuktikan cintanya. Namun ternyata dia tak pandai bekerja. Dasarnya memang dia seorang putra mahkota, mana ada pelajaran atau latihan mencuci baju. Maka selama mencuci, ia merobek semua pakaian kliennya. Sebagai pangeran, ia tidak pernah mencuci pakaian. Dia khawatir dengan demikian kedoknya akan terbuka

Calon istrinya, Sasui yang punya intuisi kuat itu tak disangka membela  dengan penuh cinta. Sebelum dia mengembalikan pakaian itu, ternyata Sasui menyarankan suatu cara.

Sasui mengetahui Punhu bukan orang biasa, namun bangsawan berharta dari suatu tempat. Intuisi Sassui amatlah kuat, namun dia tidak menginginkan harta, Sasui adalah pemilik kejujuran cinta.

“Tuan, kesusahanmu adalah kesusahanku. Aku tahu tapi aku tidak akan mempertanyakan. Ada banyak koin emas yang kau bawa dan simpan. Gunakanlah itu, selipkan diantara baju yang robek. Maka mereka tidak akan datang untuk marah,” ujar Sasui

Akhirnya, Punhu menyembunyikan koin emas di kantong semua pakaian, berharap ini akan membuat penduduk desa tetap tenang. Triknya berhasil, dan ayah Sasui setuju untuk menikahkan putrinya.

Beberapa waktu berlalu. Ayah dan saudara Punhun menentang pernikahannya dengan Sasui. Pihak kerajaan pun tidak terima Punhu selaku pangeran menjadi suami putri tukang cuci. Karena itu, ayah mereka, saudara-saudara Punhun pergi ke Bhambore. Pertama mereka mengancam Punhu tetapi ketika dia tidak menyerah, mereka mencoba metode yang lebih licik. Mereka menjamu Punhu dengan makam malam, alih-alih merayakan pernikahannya.

Punhun terkejut melihat saudara-saudaranya mendukung pernikahannya dan pada malam pertama. Lagi-lagi intusi Sasui melacak kelicikan. Sasui mengingatkan suaminya agar tidak ikut jamuan itu. Namun malang, ada sedkit salah paham, dua sejoli ini beda pendapat. Punhu tetap kekeuh mengikuti jamuan makan malam itu.

 

Sudah bersama sasui, kita masih saja tidak percaya terhadap kebijaksanaannya. Apa yang terjadi dengan penyerahan diri kita? Bagaimana dengan kasih kita? Pengabdian kita?

Punhu belum siap. Ia belum memiliki pengaman diri secanggih itu. Kemampuan diri Punhu tak tersembunyi dari Sasui.karena itu, berulang kali Sasui memberi peringatan supaya Punhu hati-hati. Sayang, Punhu malah menyalahpahami iktikad baik. Ia malah menuduh yang bukan-bukan.

Seorang murshid mengetahui kemampuan muridnya. Karena itu, bila terbukti belum siap, ia akan memagari si murid demi keselamatan kesadaran nya. Para murid sering menyalahartikan kepedulian sang murshid, Kok saya ditegur terus. Mereka ingin melakukan sesuatu yang mereka anggap baik bagi sang murshid. Mereka hendak menyebarluaskan pesan guru mereka, padahal bila jujur dengan diri sendiri, dibalik keinginan itu tersembunyi kepentingan-kepentingan pribadi mereka sendiri. Jiwa mereka masih mengejar ketennaran dan pengakuan dari dunia luar.

Mereka lupa bahwa sisa-sisa keliaran dan kebuasan yang masih ada di dalam diri mereka dapat terpicu kapan saja…. dan terjadilah, apa yang dikhawatirkan sang murshid… ingin menyelamatkan, mereka sendiri malah hanyut.

Maka mereka keluarga kerjaan pura-pura menikmati dan berpartisipasi dalam perayaan pernikahan dan memaksa Punhu untuk meminum berbagai jenis anggur. Maka, benar adanya, ketika Punhu mabuk mereka membawanya di punggung unta dan kembali ke kampung halaman mereka di Kech.

Keesokan paginya, ketika Sasui bangun, dia menyadari bahwa suminya ditipu. Dia menjadi merasakan sangat bersedih berpisah dari kekasihnya. Demi menyelamatkan cintanya, dia berlari tanpa alas kaki menuju kota Kech Makran.

Untuk mencapainya, ia harus menyeberangi puluhan mil padang pasir. Sendirian, dia melanjutkan perjalanannya sampai kakinya melepuh dan bibirnya kering karena menangis “Punhu, Punhu!”. Perjalanan itu penuh dengan mara berbahaya. Nama Punhu ada di bibir Sasui sepanjang perjalanan.

Pada suatu wilayah, Sasui haus, di sana dia melihat seorang gembala keluar dari gubuk. Gembala yang juga tahu ngaji kitab dan tahu agama itu memberinya air untuk diminum.

Namun, melihat kecantikan Sasui yang luar biasa, ada niat jahat sang penggembala. Dia mencoba memaksakan diri pada Sassui. Dia merayu kemudian karena Sasui tak terpengaruh dia menggunakan kekuatannya.

Sassui melarikan diri dan berdoa kepada Tuhan untuk menyembunyikannya, menyelamatkannya. Doa sang cantik jelita pemilik kasih murni itu dikabulkan. Dan ketika Tuhan mendengarkan doanya, tanah berguncang dan terbelahlah bumi. Lalu Sassui mendapati dirinya jatuh pada rekahan tanah itu. Kemudian bumi kembali menutup diri. Kekasih Punhu tersebut terkubur di lembah pegunungan.

Ketika Punhu terbangun di Makran, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali ke Bhambore. Ada ikatan batin, ketika Sasui memanggil namanya dari jarak puluhan mil, itulah yang membuatnya terbangun.

Saat yang sama Sasui berlari dari rumah, dia menyelinap kabur dari kerjaan. Dalam perjalanan dia memanggil “Sasui, Sasui!”.  Sama seperti kekasih Sasui memanggil namanya. Saat Sasui bertemu gembala, sebenarnya Punhu sudah sangat dekat. Mereka hanya dipisahkan satu bukit pasir saja…

Dia kemudian bertemu sang penggembala yang ada di padang pasir. Punhu bertanya tentang Sasui, dia menyampaikan ciri-cirinya. Gembala terenyuh oleh ikatan batin mereka yang sama-sama berlarian saling mencari di padang pasir. Disampaikan oleh gembala kepada Punhu keseluruhan cerita.

Kemudian Punhu sangat berduka, dia memanjatkan doa yang sama. Tuhan mengabulkan doanya. Tanah berguncang dan bumi terbelah lagi. Seketika itu badannya jatuh ke dalam tanah yang terbelah dan dia juga terkubur di lembah gunung yang sama dengan Sassui.

Lokasi bumi menelan Sasui-Punhu dumuliakan orang. Kuburan legendaris mereka masih ada di lembah ini. Shah Abdul Latif Bhittai menyanyikan kisah bersejarah ini dalam syair sufi sebagai contoh cinta abadi dan persatuan dengan Ilahi.

 

Sumber: Buku Ishq Mohabbat Anand Krishna cover buku. Wikipedia Sassui Punhun link

*Artikel ini tidak dipasangi iklan. Namun jika ada yang berkenan menyumbang untuk pengembangan website, bisa transfer ke Bank Jatim No Rek 0136057031 an Rahmat Hidayat.

Author: admin

Sanguinis

1 thought on “Sasui Punhu ( Sassi Punnu ), Legenda Cinta Sungai Sindh India

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *