Reblog: Wasiat Brawijaya V dan Janji Sunan Kalijaga

Dengan kepergian Putra mahkota/raden gugur Prabu Brawijaya V menjadi gundah/bingung sampai-sampai beliau menggali pendapat siapakah besok pengganti dirinya,intrik istanapun berkerja.beliau mendapat berita bahwa Raden Patah sedang memimpin penyerbuan ke Madjapahit sampai-sampai Prabu Brawijaya pergi meninggalkan Istana mengarah ke ke Blambangan guna minta pertolongan dari kerajaan dari Bali.

Sedangkan kedatangan raden rahmat ialah utusan raden patah yang bakal menghadap Ayahnya Prabu Brawijaya namun dijalan dicegat oleh kumpulan yang hendak merebut dominasi kerajaan. sampai-sampai raden patah mendapat berita bahwa ayahnya sedang mendapat tekanan/kudeta sampai-sampai mengirim pasukan untuk melepaskan ayahnya,sementara Prabu Brawijaya V mendapat berita bahwa anaknya akan menyerang Majapahit.
Dalam pelarian Prabu Brawijaya, Raden Said(Sunan Kalijaga) menyusul Prabu BrawijayaV. terjadilah pertemuan di Blambangan, dimana Raden Said menghentikan niat Prabu Brawijaya V meminta pertolongan dari kerajaan di Bali.
dimana dialog tersebut.tersebut Raden Said mengatakan untuk Prabu Brawijaya V. bahwa yang datang ke Madjapahit ialah Putra beliau sendiri yang mempunyai nama Raden Patah. dan raden patah tidak bermaksud menguasai kerajaan tetapi hendak membebaskan Prabu dari tangan pemberontak. sesudah Prabu Brawijaya V mendengar keterangan dai Raden Said.

Maka beliau tidak jadi menyeberang ke Bali dan hendak kembali ke Madjapahit. lantas Prabu Brawijaya mohon pendapat untuk Raden said. siapakah yang berhak menjadi pengganti Prabu Brawijaya V, oleh Raden Said diusulkan Raden Patah(anak Prabu Brawijaya v dengan Putri Cina) kemudian diamini oleh Prabu Brawijaya V.Raden Said(Sunan Kalijaga) lantas meminta keikhlasan untuk Prabu Brawijaya V Masuk agama islam untuk memperlihatkan pengakuan pengakuan Raja telah mengamini Raden Patah menjadi pengganti Prabu Brawijaya V dan agama kerajaan Madjapahit menjadi agama Islam.

Sunan Kalijaga

Prabu Brawijaya V menyetujui lantas Raden Said men Baiat Prabu dengan 2 kalimat syahadat. Prabu Brawijaya V meminta untuk Raden Said khusus guna Membaca 2 Kalimat Syahadat, Prabu Brawijaya V mau mengerjakan tetapi tanpa asyhadu(saya bersaksi).dimana intinya Prabu Brawijaya V tidak berani dan mampu yang diakibatkan faktor umur dan ketidak sanggupan Prabu Brawijaya melaksanakannya. dimana kata asyhadu (bersaksi untuk tuhan) ialah sangat berat , terjadilah dialog yang paling panjang. yang diselesaikan oleh suatu pembicaraan dimana Prabu Brawijaya V mengatakan untuk Raden Said (Sunan Kalijaga).

Bila beliau salah dalam menyampaikan 2 kalimat syahadat tanpa asyhadu maka air telaga tempat saya mengucap menjadi bukti kelak bila wangi maka permohonan saya dikabulkan oleh Allah SWT.
Bila kelak air telaga ini bau anyir maka saya mengulangi menyimak 2 kalimat syahadat dengan asyhadu. ternyata keesokan harinya air telaga terebut berbau wangi “Kuasa Allah amat mulia dan mencakup semuanya” dan kini disebut kota Banyuwangi.
dalam perjalanan kembali Sunan Kalijaga mengiringi Prabu Brawijaya V dan tiada hentinya Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V merundingkan agama Islam.

Sesampai pulang di Kerajaan Madjapahit Prabu Brawijaya menanyakan untuk Sunan Kalijaga tentang eksistensi Raden Patah rupanya Takdir berbicara lain Raden Patah saat ditanyakan keberadannya oleh Prabu Brawijaya V berhalangan/bersimpangan jalan dan saat terakhir kali ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V untuk Raden Said duduk disebelah Raden Said seorang pemuda yang ditanyakan oleh Prabu Brawijaya V siapakah dia dan Raden Said membalas ia ialah Bondan Kejawen putra Prabu juga. sampai-sampai Prabu mengucapkan untuk Raden Said bahwa Raden Patah bakal memimpin Kerajaan Islam kesatu di nusantara dan kerajaan tersebut melulu satu periode (Demak) dan sebagai penerus kerajaan nusantara ialah keturunanku yang beda dari Bondan Kejawan.

Karena Usia Prabu Brawijaya V telah Lanjut dan beliau wafat tidak bisa bertemu pun dengan Raden Patah.dan pesan Prabu Brawijaya V makam ku disebut “Makam Putri Cempa”

Wasiat terakhir Sang Prabu Browijoyo V

Syahid, sepeninggalku, anda harus dapat momong anak-cucu-ku. Terutama aku titipkan anak ini (Raden Bondhan Kajawan). Momonglah dia sampai seluruh keturunannya. Jika memang nanti ada tuah baginya, besok anak berikut yang bakal menurunkan lajere tanah Jawa.Dan lagi pesanku kepadamu, bilalau nanti aku telah berpulang ke zaman keabadian, makamkan aku di Majapahit, buatkanlah aku makam di sebelah unsur timur laut Kolam Segaran. Namailah makamku “Sastrawulan”. Dan sebarkan berita sesungguhnya yang dimakamkan di situ ialah istriku, Putri Cempa.

Sastra bermakna tulisan, wulan bermakna pelita dunia (rembulan). Ini menggambarkan keutamaanku yang melulu seperti rembulan (tidak ajek laksana matahari). Jika masih terdapat cahaya rembulan, kelak, biar seluruh orang Jawa tahu bahwa ketika diriku mangkat, aku telah mendekap agama Islam. Dan aku meminta kepadamu supaya kelak anda mengabarkan bahwa yang dimakamkan di sana ialah Putri Cempa, bukan aku, karena aku telah dirasakan seperti perempuan (disepelekan) oleh anakku sendiri, tidak lagi dirasakan sebagai lelaki, sampai sedemikian teganya dia menyia-nyiakan ayahnya sendiri.

Selesai menyerahkan wasiat, Sang Prabu segera bersedekap, kemudian meninggal dunia. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Astana Sastrawulan, Majapahit. Hingga hari ini, makam Prabu Brawijaya familiar sebagai makam Putri Cempa. Padahal, Putri Cempa meninggal di Tuban makamnya sedang di Karang Kumuning.‎

 

Sumber: ngopigembira.blogspot (dot com)

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *