Generator Hidrogen Booster Mesin

Generator Hidrogen tersemat di Shogun 110

“Pengen Makaryo, nggawe sesuatu. Keinginan berbuat sesuatu yang bermanfaat adalah dasar dari pembuatan generator hidrogen ini. Namun ingat sesuatu yang diniatkan baik belum tentu diterima banyak orang. Jadi jangan lupa ngopi, santai, dan bersyukur kepada yang Maha Kuasa” Do it Yourself (DIY)… Produk ini sudah lama saya buat, yakni sekitar tahun 2012. Di sebuah kostan yang saya juluki Diagon Alley, karena harus masuk gang sempit dulu. Terletak di Desa Babakan Tengah, Kecamatan Dramaga, Bogor. Beberapa teman mengakui kostan itu penuh inspirasi. Terbukti sudah dua orang teman yang menginap di situ dan berhasil menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya prinsip simbiosis mutualisme yang berlaku. “Bekerjasamalah, maka kamu akan beruntung”. Atau contoh lain ketika shalat berjamaan, pahalanya lebih besar. Singkat kata saat itu, saya kekurangan duit. Makan roti GS khas Bogor dan menyeruput kopi Liong Bulan. Saya sudah punya referensi di kepala, hasil browsing di internet. Yaitu tentang pembuatan Generator Hidrogen untuk mendongkrak tenaga mesin pembakaran dalam. Generator Hidrogen yang diperkenalkan Pak Joko

Skema generator Hidrogen. Credit: Broeri Kaskus

Kebetulan ada barang-barang bekas sisa ekspedisi ke pedalaman Kalimantan Tengah. Ada baterai, dan center yang rusak. *Dulu tahun 2010, senter itu tiba-tiba rusak karena saya nyanyi-nyanyi tengah malam, sementara itu adalah wilayah itu pedalaman Kalimantan yang dikuasai Dayak Kaki Merah. Ntah ada kaitannya atau nggak. Kemudian dirangkailah sebuah generator hidrogen. Tabung dari aqua botol, batre besar 3 buah, elektrode dari copotan besi konduktor senter, dan kabel, serta air dengan katalis garam. Intinya air campur garam disetrum. Dengan begitu keluar gas hidrogen (H) dan oksigen (O), hasil memecah air (H2O). Terbukti, di air keluar gelembung kayak sprite atau minuman bersoda lainnya. Kemudian saya uji coba, yakni dengan melubangi tutup botol. Lalu membebatkan tas kresek membentuk sebuah jalinan seperti balon kecil menutupi kepala botol yang berlubang. Saya beri waktu 3 menit dan kemudian saya bakar balonnya dengan korek. Ternyata “bssstt” ada ledakan kecil dan nyala api kuning tua. *Perlu diketahui spektrum api hidrogen adalah kuning tua. *** Tibalah saatnya kiriman uang saku dari ortu. Jadi saya mulai belanja part-part generator hidrogen untuk dipasang ke motor.  Semurah mungkin, karena konsep yang diusung Murmerceng. Maka saat pasar kaget di Bara (Babakan Raya) hari Minggu dibelilah botol minuman. Lebih mirip gelas besar yang punya tutup bersedotan, dan jalinan sedotan itu jika disematkan pada 2 lubang akan menjentung cangklongan sehingga mudah dijinjing.

Botol minuman dengan sedotan. credit: VsFashion toko online

Selanjutnya beli sendok besi monel yang tipis dan gampang meleot. Beli baut dan ringnya, kabel, dan selang yang biasanya untuk aquarium. Sekitar Rp 60 ribu biaya belanjanya. Pas sampe di kostan, saya bingung, kekurangan alat untuk menggarapnya. Jadi alat itu didiamkan dulu menunggu saat yang tepat. *** Datanglah masa liburan panjang, saya pulkam ke Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Rencananya generator hidrogen itu dirakit di rumah. Begitu tiba, saya langsung ambil perkakas. Pertama, sendok dulu dilubangi ujung gagangnya dengan paku. Kemudian ujung itu dibengkokkan berbentuk L terbalik. Saya ambil ban dalam sisa, digintung bentuk ring. Kemudian tutup botol plastik itu saya lubangi. Maka dibautlah dua batang sendok pada tutup plastik. Selanjutnya modifikasi selang. Selang yang menancap dibagi dua. Selang #1 pendek, dibiarkan tidak menyentuh air. Selang #2 panjang dibiarkan menjuntai ke dasar botol dan bersentuhan air.

Generator hidrogen yang sudah terpasang

Selang #1 ditambah selang akuarium yang panjang dan disambungkan ke kotak filter agar tersedot mesin. Selang 2 dibiarkan bebas. Tutup botol yang punya 2 puting sendok berbaut dirangkai dengan kabel. Kabel dihubungkan dengan kutub plus (+) dan minus (-) aki. Namun ngambilnya dari kabel bodi dan rumah kunci kontak. Jadi begitu kontak on generator juga bekerja. Bagian sendok yang disetrum terserah, pokoknya ada satu dialiri plus, satu lagi dialiri minus. Saya longgarkan baut, lilitkan kabel dan kencangkan baut. hasilnya seperti ini https://youtu.be/B2ynX2p5oOs Setelah dicoba ternyata Shogun 110 kebo bisa 120 km/jam (on speedo). Sebelumnya karena udah tua, mesinnya hanya mampu di 110 km/jam. Lumayan bisa mengembalikan tenaganya seperti baru. Semoga bermanfaat.

*Artikel ini tidak dipasangi iklan. Namun jika ada yang berkenan menyumbang untuk pengembangan website, bisa transfer ke Bank Jatim No Rek 0136057031 an Rahmat Hidayat.

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *