Sejarah Mbah Sabri (Proyo) Kabupaten Probolinggo

Tokoh Probolinggo

Saya bukan ahli sejarah, mohon maaf jika salah, saya berusaha mengumpulkan data mentah. Nanti dari masa ke masa akan ditambahkan koreksinya.

Jalan masuk menuju Desa Keben Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo, nampaknya dulu adalah hutan yang lebat

Sedikit demi sedikit cerita tentang Kakek Sabri (Mbah Proyo) yang naik ikan mondung (hiu tutul) mulai terkuak. Kakek Sabri dari Pulau Madura melarikan diri dari upaya pembunuhan tentara Belanda (VOC) dengan menceburkan diri ke laut. Dia menyelam dan baru muncul ke permukaan setelah di tengah laut. Sabri terus berenang mencari daratan untuk evakuasi diri. Namun saat tenaganya habis untuk berenang, badannya pum tenggelam. Tak disangka dia dipapah (disundul) oleh ikan besar yang diduga hiu tutul (madura: jukok mondung, red) dan dibawa ke tepian. Sampailah dia di Pantai Kabupaten Probolinggo.

Begitulah yang diceritakan Kepala Desa Opo-opo Didik Sugianto. Sebuah desa di Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo

Cerita mbah Proyo yang diceritakan Kepala Desa Opo-Opo

Mbah Proyo atau Sabri ini ternyata keturunan Majapahit tapi menetap di Pulau Madura. Berdasarkan wawancara dengan keturunannya dia gemar memakai blankon dan beskap. Jadi apakah dia malah berbahasa Jawa atau Madura, penulis tidak tahu.

Lanjut lagi, sesampainya Sabri pada pantai Probolinggo dia bersumpah tidak akan makan Ikan mondung (Famili Hiu) selama 7 turunan. Nadzar itu karena ikan itu berjasa menolongnya selama terombang-ambing di lautan.

Menetaplah dia di wilayah Krejengan dan mungkin juga menikah beranak isteri. Namun sering terjadi miss komunikasi sehingga sering dilontarkan kata “Opo Opo” (apa? apa?) sehingga Desa itu kini dikenal sebagai Desa Opo-opo.

Selain desa Opo-opo Krejengan ada juga Desa Keben Gading. Nampaknya terjadi sesuatu yang genting di Krejengan sehingga Sabri menjadi duda anak 1. Sehingga dia memilih pindah ke Desa Keben Kecamatan Gading.

Di sana dia bertemu seorang tokoh masyarakat yang memiliki putri berstatus janda beranak satu. Mereka akhirnya dinikahkan, yakni Sabri dengan Nyai Pangsing atau Nyai Sarea (ada yang mengatakan keturunan Tiongkok namun disebutkan juga Ibundanya disebut Mbah Guru (perempuan), keturunan Majapahit juga.

Makam mbah guru di tengah persawahan
Makam Mbah Guru banyak diziarahi orang-orang yang menaruh hormat padanya
8h
Goa tempat tafakur Kakek Sabri. Terletak sebelah utara dari makan Mbah Guru, 4 menit perjalanan. Masuk harus merangkak, namun di dalam luas, muat 50 orang.

Di Desa Keben Kecamatan Gading itulah Sabri dan Pangsing melanjutkan padepokan tempat belajar ilmu agama dan ilmu kanuragan dengan beberapa muridnya.

Di Desa Keben ada tempatnya tafakur yaitu sebuah batu besar di bukit sebelah selatan desa. Di tengah desa ada sawah tempat makam Mbah Guru, ibu mertua dari Kakek Sabri. Di bukit selatan adalah rumah mereka.

Lubang goa tempat tafakur kakek sabri. Lebarnya bisa dimasuki 2 orang dewasa namun dalam posisi merayap.

Ini dia Video menuju Gua Keben. Credit Video: Isabella Anjani

Kakek Sabri menikah dengan Nenek Pangsing tidak memiliki anak. Sehingga keturunannya Mbah Pangsing hasil dari pernikahan sebelumnya banyak yang berkulit putih. Kini keturunannya banyak berdomisili di Kecamatan Gading. Jika ada orang Gading berkulit putih kemungkinan besar adalah turunan Nenek Pangsing. Sementara putra dan keturunan dari Kakek Sabri tersebar di Pakuniran.

Putra dari Kakek Sabri, bernama Ahmad Ibrahim. Dia adalah mandor pembangunan Dam Glagah di Pakuniran sekitar tahun 1800-an. Kabarnya Kakek Ibrahim dihadiahi haji dengan menaiki Kapal Api milik Belanda, yang berlabuh di Besuki atau Mayangan Probolinggo. Berbulan-bulan dengan melintasi Samudera Hindia.

Link gambar Desa Keben Gading

Salah satu sudut persawahan di Desa Keben Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo, di ujung sawah ada makam mbah Sabri yang kemungkinan orang yang sama dengan sebutan Mbah Proyo

Berikut adalah video perjalanan menuju Desa Keben Kecamatan Gading.

Hiu Tutul

Setelah mempelajari beberapa sifat hiu. Maka kuat dugaan jika Hiu tutul lah jenis hiu yang  mengayelamatkan Kakek Sabri saat terombang-ambing di lautan. Hal ini juga terbukti adanya migrasi Hiu tutul yang selalu melewati perairan laut Probolinggo. Berikut adalah salah satu Hiu tutul yang terjerat jaring nelayan.

*Penulis bukan ahli sejarah, cerita ini dirangkum dari beberapa sumber cerita para tetua. Jika ada saran koreksi mohon berkenan kirimkan ke email rahmat31@gmail.com

 

Author: admin

Sanguinis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *